ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

YAA ALLAH DENGAN PERTOLONGANMU KAMI MEMOHON
BERILAH KAMI KEKUATAN LAHIR DAN BATHIN UNTUK MAMPU MERAIH RIDLAMU..

Sabtu, 10 Desember 2011

Din: Ubah Nasionalis Patriotis Jadi Nasionalis Rasional


Malang- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA, mengatakan sudah saatnya kita meninggalkan sikap “nasionalis patriotis” yang salah menjadi nasionalis rasional. Yang dimaksud dengan nasionalis patriotis yang menyimpang itu adalah yang dilakukan secara membabi buta. Ketika disenggol sedikit lalu reaktif, membabi buta, demonstratif.
“Seharusnya kita bisa lebih mengarahkan kepada nasionalis dengan meningkatkan daya saing, memperkuat diri dengan daya juang yang tinggi,” kata Din menjelaskan yang dimaksud dengan nasionalisme rasional. Din berbicara tentang berbagai persoalan politik dan memotivasi kader muda di hadapan sekitar 400 kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jumat (9/12) di UMM Dome.
Din hadir di UMM atas undangan Pimpinan Cabang IMM Malang untuk memberi kuliah umum sebelum pelaksanaan Diklat Politik Nasional (Dikpolnas) yang akan berlangsung hingga Minggu (11/12). “Kami bangga dan bersyukur karena Ayahanda Din menyempatkan waktu untuk kader-kader Muhammadiyah di acara kami,” kata Ketua PC IMM Malang Taufik.
Hadir dalam pertemuan itu rektor UMM, Muhadjir Effendy, ketua DPD IMM Jatim Ali Mutohirin, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, Baroni dan Ketua PDM Kabupaten Malang, Mursidi, serta fungsionaris organisasi otonom Muhammadiyah lainnya.
Menurut Din, bangsa ini sedang menghadapi dua persoalan besar yang disebutnya sebagai moral illiteracy dan spiral of stupidity. Moral illiteracy adalah buta aksara moral atau tuna moral. Sedangkan spiral of stupidity adalah lingkaran kebodohan atau disebut sebagai the spiral of immorality.
Akibat kedua perilaku itu, bangsa ini semakin koruptif dan terjebak ke dalam lingkaran kebodohan. Perilaku kebohongan, kemunafikan, manipulasi, terjadi diberbagai sektor. Korupsi, disebutnya merupakan organized crime, termasuk yang dilakukan oleh negara. Melalui UU mengenai Ekonomi, misalnya, negara mengesahkan pencaplokan kekayaan alam kita kepada pihak asing.
“Yang lebih memprihatinkan, perilaku koruptif itu sudah menjalar ke kader-kader muda, pelakunya masih berusia belia,” ujar Din menyebut beberapa nama yang santer diberitakan di media massa.
Di sisi lain kelemahan leadership juga menjadi persoalan serius. Manajemen dan kepemimpinan tidak berjalan efektif. “Negara ini telah salah urus karena pemimpinnya tidak mau serius mengurus,” kritiknya.
Untuk itu Din menyerukan kepada kaum muda Muhammadiyah untuk mengambil peran penting. “Umat Islam harus menjadi determinant factor, minimal jadi effective factor dari problem solver,” harapnya.
Muhammadiyah, kata Din, tidak perlu terlalu harus besar secara angka sebaliknya harus kuat secara kualitas. “Biarpun kecil, peran kita harus sangat besar bagi bangsa ini,” kata Gurus Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Melalui politik nilai atau politik akomodatif, menurut Din, warga Muhammadiyah bisa mengambil peran di berbagai partai politik. Tetapi nilai-nilai luhur persyarikatan harus ditegakkan dan tidak semata-mata berorentasi kepada jabatan.

copas :
http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-661-detail-din-ubah-nasionalis-patriotis-jadi-nasionalis-rasional.html

Dituntut Mandiri, Mahasiswa Jangan Terpaku Dosen



Yogyakarta- Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tertinggi selalu dituntut untuk memiliki dosen sebagai pengajar yang berkualitas. Tidak seperti guru, seorang dosen lebih diposisikan sebagai fasilitator pengembangan intelektual mahasiswa. Permasalahannya, mahasiswa baru seringkali terjebak pada lingkungan SMA dengan keberadaan guru sehingga kesulitan melakukan pengembangan diri.
 
Demikian disampaikan Ketua Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahim Abdurahim, SE., M.Si, Akt di sela-sela kegiatan Bridging Mahasiswa Akuntansi UMY 2011/2012, “Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant” yang berlangsung sejak 3 Desember 2011 hingga 21 Januari 2012 mendatang, di Kampus Terpadu UMY.
 
Menurut Ahim, berbeda dengan guru sekolah yang benar-benar mengarahkan siswa, dosen lebih diletakkan sebagai pemberi ilmu dalam perkuliahan, dan fasilitator saja. Mahasiswa dituntut untuk tidak terpaku hanya pada apa yang diberikan oleh dosen di kelas. Mahasiswa sepantasnya mengembangkan pengetahuan mereka di berbagai sarana. “Dosen bukan segala-galanya. Logikanya, saat lulusan perguruan tinggi diwawancarai untuk masuk kerja, bukan dosen yang mewawancarai mereka. Mereka perlu referensi yang jauh lebih dari yang ada di perkuliahan” terangnya.
 
Mahasiswa juga dituntut untuk mandiri dalam memilih minat apa yang ingin mereka kembangkan. Fasilitas-fasilitas non-kulikuler, himpunan mahasiswa misalnya, dibentuk hanya sebagai sarana memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mahasiswa untuk berekspresi. “Universitas hanya memberi sarana, mahasiswa harus punya ide sendiri dalm mengadakan kegiatan seminar, lomba-lomba, atau kegiatan lain. Softskill seperti ini mengantarkan mereka ke pintu dunia kerja”, jelasnya.
 
Salah satu pengembangan intelektual lain menurut Ahim cukup berpengaruh terhadap dunia kerja adalah kemampuan menulis menulis ilmiah. Menulis secara ilmiah menurutnya dapat mengasah mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis dan logis. Di dunia kerja, hal semacam itu merupakan kemampuan dasar. Ditambah lagi dalam membuat keputusan secara akurat berdasarkan data yang akan ada dalam karya ilmiah dan dunia kerja.
 
Terkait dunia kerja, Ahim menilai, meskipun tugas dosen adalah sebagai pengajar di kelas, dukungan dosen yang juga berpengalaman sebagai praktisi Akuntansi tetap diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar perkuliahan tidak terpaku pada teori saja, sehingga mahasiswa memperoleh bayangan jelas. “Mahasiswa kedokteran saja pengajarnya seorang dokter. Mustahil jika seorang calon ahli keuangan daerah diajar oleh orang yang tidak tahu keuangan daerah itu seperti apa”, tandasnya.
 
Bridging Mahasiswa Akuntansi, merupakan program pengenalan dan penguatan kemampuan akademik serta softskill menghadapi sistem dan lingkungan belajar yang baru. Dalam program ini, para dosen akan memberikan sejumlah materi untuk tujuan tersebut, seperti kemampuan penulisan ilmiah, diskusi, presentasi, etika akademik, serta Bahasa Inggris. (umy.ac.id)

copas dari :
http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-651-detail-dituntut-mandiri-mahasiswa-jangan-terpaku-dosen.html